Pernahkah kamu merasa sendirian, padahal ada suami duduk tepat di
sebelahmu?
Dia ada di sana—fisiknya ada. Tapi tatapan matanya tertuju pada layar HP.
Telinganya tertutup earphone. Dan pikirannya? Entah melayang ke mana.
Jauh sekali dari jangkauanmu.
Kamu mencoba mengajak ngobrol, tapi jawabannya cuma "Hmm", "Ya",
atau "Nanti deh, aku capek."
Lalu kamu mulai merasa insecure. Kamu mulai bertanya-tanya:
"Apa aku membosankan?"
"Apa dia punya orang lain?"
"Kenapa dia berubah? Dulu pas pacaran, dia yang ngejar-ngejar aku."
Dan akhirnya, kamu melakukan hal yang dilakukan kebanyakan istri: Kamu
mulai mengejar.
Kamu memberondong dia dengan chat ("Lagi di mana?", "Sama siapa?").
Kamu menuntut waktu. Kamu menangis. Kamu marah-marah. Kamu
berharap dengan berteriak lebih keras, dia akan mendengar.
Tapi anehnya... semakin keras kamu berusaha mendekat, semakin jauh dia
berlari. Semakin kamu menuntut perhatian, semakin dingin sikapnya.
Lelah, ya?
Saya paham rasanya. Rasanya seperti berteriak di dalam air. Habis
tenaga, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tapi, izinkan saya memberitahumu satu rahasia kecil yang akan mengubah
hidupmu mulai hari ini:
Bukan salah kamu kalau dia menjauh. Tapi, CARA kamu menariknya
kembali yang mungkin keliru.